Topics :
Home » , , » Domba 'Marco Polo' Bertanduk Terpanjang di Dunia

Domba 'Marco Polo' Bertanduk Terpanjang di Dunia

Ungkit -  Seekor Domba Marco Polo (Ovis Ammon Polii) menurut wikipedia adalah subspesies dari domba argali dan habitat hidupnya berada di daerah pegunungan Asia Tengah. Hewan ini memiliki kekhasan yang ditunjukkan terutama oleh tanduknya yang berukuran besar dan berbentuk melingkar. Sayangnya status konservasi hewan tersebut berada dalam ancaman kepunahan, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk melindungi jumlah mereka dan menjaga dari perburuan komersial.

Nama binomial domba ini secara umum adalah Ovis Ammon, seperti dijelaskan oleh ilmuwan Swedia Carl Linnaeus pada tahun 1758, dan semua anggota spesies tersebut biasa disebut 'argali'. Subspesies Marco Polo (Ovis Ammon Polii) pertama kali dijelaskan secara ilmiah oleh ahli zoologi Edward Blyth tahun 1841. 

Domba ini sering disebut "Marco Polo Argali" yang berasal dari nama penjelajah abad ke-13. Sang penjelajah, Marco Polo menggambarkan mereka dalam bukunya "The Travels of Marco Polo". Nama lain domba ini adalah "Pamir Argali" dan di Provinsi Badakhshan Afganistan juga dikenal secara lokal sebagai "Nakhjipar". 

Domba ini terutama dikenal karena tanduk spiralnya yang panjang, yang memiliki rentang hingga 140 cm (55 inci). Mereka memiliki tanduk terpanjang diantara semua jenis domba, dengan tanduk terpanjang yang pernah tercatat yaitu 1,9 m (6,2 kaki) dan beratnya mencapai 60 lbs (27 kg). 

Tanduk domba Marco Polo telah lama menjadi daya tarik yang populer bagi para pemburu trofi atau hiasan dinding. Tanduk ini mulai tumbuh 15-20 hari setelah domba-domba tersebut lahir, dan pertambahan ukuran yang paling menonjol terjadi selama tahun pertama hidupnya. Pertumbuhan ketebalan tanduk paling terlihat selama dua tahun pertama usianya.


Domba jantan dewasa rata-rata beratnya mencapai 126 kg (280 lbs). Tinggi domba jantan sekitar 113 cm (44 inci) dan domba betina sampai 100 cm (39 inci). Kehamilan domba betina berlangsung sekitar 160 hari, dengan normalnya terjadi kelahiran tunggal. Kelahiran kembar tidak biasa, tetapi ada juga catatan domba betina melahirkan lima ekor anak sekaligus, dan kembar tiga pada kelahiran dua tahun sesudahnya.

Domba Marco Polo rata-rata memiliki masa hidup 13 tahun. Tanduk domba memiliki semacam cincin yang tumbuh setiap tahun, sehingga dengannya usia hewan jantan dapat ditentukan. Domba betina tidak memiliki tanduk, sehingga lebih sulit untuk ditentukan usianya.

Kebanyakan domba Marco Polo tinggal di Pegunungan Pamir, wilayah yang berdekatan dengan perbatasan Afghanistan, Pakistan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Cina. Mereka tinggal di ketinggian antara 3.700 sampai 4.800 m diatas permukaan laut. Subspesiesnya hidup di bagian barat laut Distrik Hunza di sepanjang perbatasan Cina, menghuni perbatasan Kilik Mintaka dan daerah barat laut Taman Nasional Khunjerab. Domba Marco Polo juga menghuni Koridor Wakhan, di sepanjang perbatasan Afghanistan. Mereka berbagi habitat hidupnya dengan binatang lain seperti Ibex Siberia. 

Domba Marco Polo umumnya hidup dalam kelompok kecil terdiri atas beberapa lusin individu. Selama musim panas mereka masuk kedalam kawanan lebih kecil, yang terdiri jenis kelamin yang sama. Selama dan setelah musim kawin mereka membentuk kelompok yang lebih besar untuk perlindungan dan penghematan energi. 

Ketika musim kawin dimulai, domba jantan berjuang untuk membuat dominasi diantara mereka. Hanya domba jantan dewasa (usia lebih dari 6 tahun) yang berjuang untuk mendominasi, dan setelah pemenang ditetapkan maka domba-domba jantan mulai memilih domba betina mereka. Para pejantan kemudian akan memisahkan diri dari kelompok dan berbulan madu dengan pasangannya selama satu atau dua bulan.

Peneliti margasatwa menyatakan bahwa domba Marco Polo berada dalam ancaman kepunahan akibat perburuan komersial yang luas. Kegiatan berburu domba Marco Polo pertama kali menjadi populer ketika Mohammed Zahir Shah, raja Afghanistan, memburu dan membunuh seekor domba jantan pada tahun 1950. Dia kemudian menyatakan bahwa lembah dimana domba tersebut diburu menjadi kawasan khusus berburu untuk keluarga kerajaan Afghanistan. Konon tidak sampai tahun 1968 seorang turis Amerika sudah diizinkan untuk berburu di kawasan tersebut. Pemburu Amerika pada tahun 2008 diperkirakan membayar antara 20.000 sampai 25.000 dolar untuk sebuah ekspedisi perburuan domba Marco Polo.

Jumlah populasi domba ini di Khunjerab pada tahun 1976 diperkirakan 300 ekor. Angka ini menurun menjadi paling banyak 160 ekor saja antara tahun 1978 sampai 1981, dan turun lagi menjadi hanya 45 ekor pada tahun 1991. George Schaller dari Wildlife Conservation Society memperkirakan populasi domba ini di dunia pada tahun 2003 ada sekitar 10.000 ekor, tinggal setengah dari yang diperkirakan Ronald Petocz pada tahun 1973. Kepadatan populasi mereka dicatat sebagai kurang dari dua ekor per 1 kilometer persegi. Domba Marco Polo dimasukkan pada daftar pertama spesies dilindungi yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Perlindungan Lingkungan Afghanistan, pada Juni 2009. 

Pada tahun 2008, George Schaller meluncurkan kampanye untuk melindungi domba Marco Polo. Ia mencatat bahwa setelah Taman Nasional Khunjerab didirikan oleh Pakistan pada tahun 1975, dan Cagar Alam Taxkorgan ditetapkan Cina pada tahun 1984, ternyata kedua taman tersebut tidak cukup untuk melindungi domba, karena adanya migrasi musiman mereka. Schaller kemudian mengusulkan rencana perlindungan internasional pada tahun 1987 untuk memecahkan masalah tersebut, tetapi upaya itu terhenti karena kesulitan politik. 

"Tidak pernah mudah untuk mendapatkan pemerintah empat negara untuk menyepakati apa pun," kata Schaller tentang usahanya. Misinya adalah untuk menemukan sebuah kawasan yang meliputi perbatasan Cina, Pakistan, Afghanistan dan Tajikistan di mana domba-domba itu akan dilindungi. Schaller menyebut kawasan yang diusulkannya bernama "Pamir Peace Park".


Situs pengajarplus.com mengutip sebuah tulisan tentang laporan para peneliti Wildlife Conservation Society yang didukung USAID. Laporan tersebut menyatakan bahwa domba Marco Polo bepergian secara ekstensif di perbatasan pegunungan Afghanistan, Tajikistan, dan China.

Dengan menggunakan teknik tertentu terhadap ekstrak DNA dari sampel tinja, peneliti menemukan bahwa domba Marco Polo di Pegunungan Pamir Afghanistan secara genetik terhubung dengan domba di Tajikistan dan Cina, meskipun ketiga wilayah melalui medan yang menantang.

"Spesies seperti domba Marco Polo sulit untuk dipantau dengan kondisi terbaik, karena keterbatasan kemampuan kita untuk mengikuti mereka di habitatnya," kata Richard B. Harris, seorang ilmuwan satwa liar dari Universitas Montana dan Wildlife Conservation Society. Ia mengtakan, "Metoda non-invasif dapat menentukan tren populasi dan keterkaitan, hasilnya sangat berharga dalam memahami cara terbaik untuk melindungi hewan-hewan luar biasa."

Karena domba Marco Polo adalah binatang yang sulit dipahami untuk dilacak, maka tim peneliti mengumpulkan sampel kotoran dari 172 domba dari lima daerah yang berbeda di Afghanistan, Tajikistan, dan Cina sebagai sarana untuk menjawab pertanyaan tentang keragaman genetik dan konektivitas hewan di wilayah ini.

Tanduk domba Marco Polo digambarkan sebagai "sepanjang enam telapak tangan" dan digunakan oleh para gembala untuk membuat kerajinan mangkuk besar, atau untuk membangun kandang ternak. Persilangan domba Marco Polo dengan domba domestik dapat menghasilkan potongan daging yang lebih besar dan lebih berotot. Daging domba Marco Polo dikatakan kurang mirip rasa daging domba domestik, tetapi peneliti untuk Komite Penasehat Inovasi Teknologi pada Dewan Riset Nasional Amerika Serikat menyimpulkan bahwa daging hasil persilangan akan lebih populer bagi konsumen. Domba Marco Polo dapat dibiakkan untuk tujuan lebih dari sekedar penghasil daging, karena tanduknya juga bernilai, dan bulunya dapat digunakan untuk membuat pashmina.




0 komentar :

Posting Komentar